Audrey Donabella Eugenia O.L
Fabian Brahma
Hello readers, nama saya Audrey Donabella dari SMA Santa Maria Surabaya. saat ini saya akan berbagi kisah inspiratif singkat tentang diri saya dan semoga saja cerita singkat yang saya sampaikan ini dapat menjadi panutan atau inspirasi bagi para readers.
Dulu, sebenarnya saya adalah seorang anak yang kurang percaya diri dan pemalu. Ya, itu merupakan salah satu kelemahan saya. Kelemahan saya tersebut membuat saya menjadi takut dan grogi saat berbicara di depan orang banyak. Jadi, setiap kali saya maju ke depan kelas biasanya badan saya jadi bergetar, jantung berdebar kencang atau bisa saja saya langsung lupa dengan materi yang sedang saya bicarakan di depan kelas alias ngeblank mendadak.
Jujur saja, saya dulu paling tidak suka dengan presentasi, debat, pidato, dan lain lain yang berhubungan dengan berbicara di depan orang banyak, aneh kan? Seiring dengan berjalannya waktu, ada saat dimana saya sangat kesal dengan diri saya dan saya membayangkan apa yang terjadi bila saya takut berbicara di depan umum. Suatu mimpi yang buruk bukan? Lalu, Bagaimana cara menyikapinya?
Salah satu cara yang saya pakai adalah saya mencoba untuk percaya pada Tuhan dan kepada diri saya sendiri bahwa sebenarnya saya mampu. Seiring berjalannya waktu, saya mulai sedikit demi sedikit berani berbicara di depan umum. Dengan dukungan teman dekat dan orang tua saya, saya mulai termotivasi untuk berubah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Saat saya berada di kelas XI saat ini, saya sudah tidak takut dengan yang namanya maju ke depan. Satu lagi jangan lupa untuk berdoa kepada Tuhan atas apa yang telah Ia berikan kepada kita. Semoga cerita yang saya sampaikan ini dapat berguna bagi Readers. THANK YOU and God Bless You...
TRUST YOURSELF AND BE THE BEST YOU CAN BE!!!
Fabian Brahma
Hai web readers, saya Fabian Brahma dari SMA Santa
Maria Surabaya membawakan informasi bagi anda semua. Kali ini, saya akan
berbagi kisah inspiratif yang diangkat dari kisah nyata. Sebuah kisah tentang
anak kecil yang kehilangan semua yang ia sayangi….. . Maaf, rupanya saya tidak
ditugaskan untuk membuat novel pemenang penghargaan, sebaliknya saya akan
bercerita tentang pengalaman yang tidak kalah memotivasi hidup anda dari
seseorang yang… pada dasarnya bukan siapa-siapa.
Seorang siswa menengah atas
yang hanya berani berbicara kepada orang tuanya sendiri dan menghabiskan waktu
liburnya tidur terlentang di atas kasur kesayangannya. Ya, “figur motivasi”
tersebut adalah saya sendiri. Maaf telah mengecewakan anda.
16 Desember 2015, adalah hari dimana akabri berulang
tahun. Tetapi di hari ini juga saya telah menghadapi ketakutan terbesar saya.
Tetapi sebelumnya, mari kita mundur sejenak seminggu sebelumnya. Jadi, pada
saat liburan natal 2015, orang tua teman saya memaksa saya secara “halus” untuk
mengikuti sebuah seminar yang bertempat di Lembang, Jawa Barat. Saya sendiri
sejujurnya tidak ingin untuk mengikuti seminar tersebut, tetapi berhubung orang
tua teman saya sudah mendaftarkan diri saya TANPA sepengetahuan saya, ya apa
boleh buat. Lagipula dia sendiri yang menanggung semua biaya penerbangan dan
seminar bilingual tersebut, paling tidak saya mendapat liburan gratis dan tidak
perlu berbaring di atas kasur kesayangan saya.
Singkat cerita saya sampai di tempat seminar yang
diselenggarakan di hotel (sekaligus tempat kita menginap) dan bertemu banyak
remaja. Sangat banyak, sekitar 200 remaja dengan berbagai umur, dari murid SMP
hingga perguruan tinggi. Kebanyakan dari remaja tersebut berasal dari Ibukota,
yang terkenal lancar dengan bahasa Inggrisnya. Tentu saja saya tidak mau kalah
dan sedikit unjuk gigi mencoba membuka perbincangan dengan bahasa Inggris,
kepada anak SMP yang bermuka “innocent”. Dia menjawab bahwa ia bernama Kevin,
dalam aksen Real British sambil membenarkan grammar
saya… Saya hanya bisa diam tertegun sambil perlahan berjalan mundur menjauhi
dia.
Setelah menjalani dua dari lima hari seminar tersebut
berlangsung, ternyata seminar tersebut tidak seburuk yang saya bayangkan.
Pembawa seminar yang asyik, teman-teman yang gokil (kecuali Kevin), makanan yang enak, dan beberapa remaja
cantik untuk ditaksir. Saya juga beremu dengan remaja lain dari broken family dan orang tua yang abusive, yang menurut saya sangat
inspiratif betapa kuatnya ia menghadapi permasalahan tersebut. Di lain sisi,
materi dari seminar tersebut untuk menjadi sukses, diantarkan dengan sangat
baik melalui games-games yang membentuk
teamwork, ajang bakat, bahkan kita diberikan test akhir tentang materi yang
diberikan sebagai syarat bukti telah mengikuti seminar tersebut.
Di hari terakhir, setelah test akhir, penyelenggara
seminar secara diam-diam juga mengundang para orang tua masing-masing peserta
seminar. Kemudian, para orang tua diberi tahu tentang apa saja yang telah kami
pelajari selama lima hari tersebut. Lalu
seperti seminar lain, peserta seminar diberikan kesempatan untuk
“berpidato” dan menceritakan tentang komitmennya. Dan coba tebak siapa yang
pertama menjadi relawan? Ya, Kevin. Saya tentu ingin maju ke depan dan
membanggakan orang tua saya, tetapi di dalam lubuk hati saya, ada rasa takut
yang sangat besar untuk berbicara di depan 400 orang. Jangankan berbicara di
publik, berbicara di depan kelas saja masih tergagap-gagap.
Selagi saya menghadapi perang batin tersebut, ternyata
si pembawa seminar sudah menawarkan relawan terakhir. Saya dalam keadaan
bingung lantas mengacungkan tangan tanpa pikir panjang dan lari ke atas podium.
Saya mengambil mic dan menatap para orang tua. Kesalahan terbesar dalam hidup
saya…. Keringat dingin mengucur dari dahi saya yang diterangi oleh lampu
podium, tak satu kata pun terpikirkan dalam benak saya, seluruh ruangan hening
bagaikan kumpulan singa siap menerkam mangsanya. Saya membuka mulut saya dan
dengan dramatis megucapkan, “Tes.” Kesalahan terbesar kedua dalam hidup saya.
Seluruh ruangan tertegun sambil menahan tawa. Saya melirik Kevin tertawa dengan
mata sinisnya. Oke, saya menutup mata, dan mencoba menenangkan diri saya.
Secara ajaib, tiba-tiba saya dapat bercerita dan mengungkapkan semua yang saya
pikirkan. Para orang tua mulai bertepuk tangan dan saya melihat orang tua saya
berdiri dengan raut wajah yang bangga.
Sejak saat itu, saya melihat dunia dengan berbeda,
bahwa dunia tidak dapat berubah seperti yang anda inginkan, dan anda lah yang
harus berubah, sesulit dan sekeras apapun perubahan itu berlangsung. Manusia
dapat bertahan hidup sampai saat ini dengan cara tersebut. Mungkin beberapa
peristiwa memang memilukan, tetapi selama anda memiliki dorongan untuk terus
maju, hidup akan berjalan dengan baik.
Terima kasih bila anda sedang membaca bagian ini,
karena itu berarti anda sudah meluangkan waktu anda yang sangat berharga demi membaca
artikel buruk saya dan mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak pantas dari
artikel yang memang tidak pantas untuk dibaca di atas. Selamat menikmati hari
anda dan sampai jumpa. Cheers!
Giovellino Marthiens
readers semua, mungkin saya disini tidak akan
menuliskan begitu banyak, saya hanya akan menuliskan beberapa motivasi kecil
bagi kalian.
Kalian pasti pernah mengalami masa-masa yang sulit
bukan? Mulai dari masalah di sekolah bahkan masalah yang lebih serius. Saya
disini ingin memotivasi kalian agar dapat menghadapi berbagai masalah tersebut.
Yang pertama kalian harus lakukan adalah yang pasti
Percaya kepada Tuhan-Mu. Jika kamu memiliki masalah di sekolah karena
pembullyan jangan bersedih, tersenyumlah terus walaupun itu sulit tetapi coba
pikirkan hal ini kira-kira apakah kalian pernah berpikir kenapa mereka membully
kalian? Kalian pasti berpikir karena aku jelek, aku gendut, aku kurus dan
lain-lain. Nyatanya hal itu salah mereka semua membully kalian mungkin di lihat dari luarnya karena mereka melihat
hal-hal tersebut tetapi sebenarnya mereka membully kalian karena kalian tidak
sama dengan mereka karena kalian berbeda jadi mereka membullymu agar dengan
harapan engkau bisa sama seperti mereka, tetapi jangan coba-coba untuk menjadi
seperti mereka jadilah dirimu sendiri, kau itu special dank arena itu kau
berbeda dari mereka seperti bunga di taman semuanya berwarna kuning sedangkan
kau berwarna merah sendiri tetapi kau lebih indah dari yang lainnya karena kau
berbeda oleh karena itu jangan pernah berkecil hati. Begitu juga dengan
sekolahmu mungkin kau merasa aku bodoh aku tak pantas untuk sekolah, jangan
berpikir seperti itu mungkin saja nilaimu di sekolah biasa saja tetapi bisa
saja di masa depan engkau menajdi orang sukses karena masa depanmu tidak di
tentukan oleh sebuah angka tetapi masa depanmu itu di tentukan oleh pilihan dan
kemampuanmu sendiri oleh karena itu jangan pernah berkecil hati.
Always be happy and doing it all with your heart!
Katherine Octavia
Salah satu kelemahan saya adalah terkadang saya tidak bisa mensyukuri apa yang saya miliki.namun terkadang saya berpikir,banyak orang lain yang lebih kurang beruntung daripada saya.
Saya memiliki mulut dan bisa berbicara,namun saya sering menyombongkan diri dan menghina orang lain,saya mempunyai tangan namun saya kurang menggunakan tangan tersebut untuk memuji Tuhan,saya memiliki kaki namun saya jarang pergi ke gereja. Ada sebuah kata dari nick vujicic,seorang pria yang tidak memiliki tangan dan kaki sejak lahir. Kata-kata tersebut adalah "Di dalam hidupku aku berharap punya tangan, punya kaki, punya ini, punya itu, itu semua tidak membantu. Di dalam hidup ada beberapa prinsip salah satunya adalah bersyukur". Kata-kata tersebut sangat menginspirasi saya dan setelah saya mendengar kalimat tersebut,saya merasa sangat bersalah karena tidak mempergunakan apa yang saya punya dengan baik untuk memuji Tuhan.
Katherine Octavia
Salah satu kelemahan saya adalah terkadang saya tidak bisa mensyukuri apa yang saya miliki.namun terkadang saya berpikir,banyak orang lain yang lebih kurang beruntung daripada saya.
Saya memiliki mulut dan bisa berbicara,namun saya sering menyombongkan diri dan menghina orang lain,saya mempunyai tangan namun saya kurang menggunakan tangan tersebut untuk memuji Tuhan,saya memiliki kaki namun saya jarang pergi ke gereja. Ada sebuah kata dari nick vujicic,seorang pria yang tidak memiliki tangan dan kaki sejak lahir. Kata-kata tersebut adalah "Di dalam hidupku aku berharap punya tangan, punya kaki, punya ini, punya itu, itu semua tidak membantu. Di dalam hidup ada beberapa prinsip salah satunya adalah bersyukur". Kata-kata tersebut sangat menginspirasi saya dan setelah saya mendengar kalimat tersebut,saya merasa sangat bersalah karena tidak mempergunakan apa yang saya punya dengan baik untuk memuji Tuhan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar